Benarkah Penyakit Campak Gejalanya Mirip Covid-19?

Benarkah Penyakit Campak Gejalanya Mirip Covid-19?

Mungkin sewaktu kecil kamu pernah mengalami tubuh merah-merah dan badan panas disertai gejala seperti flu. Itu adalah penyakit campak. Penyakit ini biasa menyerang anak-anak tapi bisa juga menyerang orang dewasa. Sebenarnya apa itu campak dan apa penyebabnya? Baca terus ulasannya di bawah ini.

Apa Itu Campak?

Campak merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan. Ini adalah penyakit serius yang sangat menular. Penyebab penyakit campak adalah virus. Virus ini menginfeksi saluran pernapasan, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Campak mengakibatkan ruam kulit seluruh tubuh yang disertai gejala seperti flu. Ini adalah penyakit manusia dan tidak diketahui terjadi pada hewan.

Penyebab Penyakit Campak

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, penyebab campak adalah sejenis virus yang disebut paramyxovirus. Virus ini sangat menular dan biasanya ditularkan dalam bentuk droplet saat orang yang terinfeksi bernapas, batuk, atau bersin. Virus campak juga bisa bertahan selama kurang lebih 2 jam pada permukaan yang terinfeksi misalnya gagang pintu atau telepon. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% orang yang tidak divaksin dan tinggal bersama pasien campak yang terhindar dari infeksi penyakit ini.

Penyebab dari kematian yang berhubungan dengan penyakit campak sebagian besar disebabkan oleh komplikasi yang terkait dengan penyakit tersebut. Komplikasi serius lebih kerap dialami oleh anak-anak di bawah usia 5 tahun maupun orang dewasa di atas usia 30 tahun. Di antara komplikasi yang paling serius, yaitu kebutaan, diare parah dan dehidrasi terkait, ensefalitis (infeksi yang mengakibatkan pembengkakan otak), infeksi telinga juga pernapasan parah seperti infeksi pneumonia. Anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, khususnya yang menderita kekurangan vitamin A akan mengalami campak yang parah. Mereka yang sistem kekebalan tubuhnya dilemahkan oleh HIV/AIDS ataupun penyakit lain juga bisa mengalami hal yang sama. 

Gejala Penyakit Campak

Gejala awal dari penyakit campak berkembang kurang lebih 10 hari sesudah orang tersebut terinfeksi. Beberapa di antara gejalanya adalah:

  • Demam yang bisa mencapai sekitar 40oC
  • gejala seperti pilek, seperti pilek, bersin dan batuk
  • sakit, mata merah yang mungkin sensitif terhadap cahaya
  • bintik-bintik putih keabu-abuan kecil di bagian dalam pipi

Beberapa hari kemudian, akan muncul ruam bercak merah-coklat. Biasanya sebelum akhirnya menyebar ke seluruh tubuh, bercak merah ini akan mulai muncul di kepala maupun leher bagian atas. Penyakit campak akan menular selama kurang lebih 4 hari sebelum timbulnya ruam dan kira-kira 5 hari sesudahnya. Untuk penderita campak, sebaiknya menjauh dari orang lain agar tidak menginfeksi orang lain. 

Klik Untuk Donasi - Sekujur Tubuhnya dipenuhi Luka akibat Penyakit Kulit Kronis, Ikshan Mengharapkan Uluran Tanganmu!
Dermatitis Atopik
Muhammad Ikhsan Cahyadi
Oleh Medikator
  1. Terdanai Rp.5,043,230
  2. Pencapaian 18.27%
  3. Donatur 91

Bagaimana Cara Meringankan Gelaja Campak?

Untuk membantu meringankan gejala serta mengurangi risiko penyebaran infeksi, ada beberapa hal yang dapat penderita penyakit campak lakukan, di antaranya:

  • Minum ibuprofen atau parasetamol agar bisa meredakan demam, sakit dan nyeri (aspirin tidak boleh diberikan pada anak di bawah 16 tahun)
  • Minum air putih yang cukup agar tidak dehidrasi
  • Tutup tirai jendela untuk membantu mengurangi sensitivitas cahaya
  • Gunakan kapas basah untuk membersihkan mata
  • Jangan masuk sekolah atau bekerja setidaknya selama 4 hari setelah kemunculan ruam untuk pertama kali 

Untuk kasus campak yang parah, khususnya jika ada komplikasi, pasien mungkin perlu dirawat di rumah sakit untuk pengobatan.

Siapa Saja yang Berisiko Terkena Campak?

Anak-anak kecil yang tak divaksin, mereka memiliki risiko tinggi terjangkit campak dan komplikasinya, bahkan  juga kematian. Selain itu, wanita hamil yang tidak divaksinasi juga memiliki risiko yang sama. Orang-orang yang tidak memiliki kekebalan, yaitu yang belum atau sudah divaksinasi namun tidak kekebalan tidak berkembang, bisa terinfeksi virus penyakit campak.

Penyakit campak masih umum terjadi di banyak negara berkembang, khususnya beberapa negara Afrika dan Asia. Dikutip dari laman situs Berita Satu, menurut data WHO tahun 2015, Indonesia berada dalam 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Berdasarkan catatan dari Kemkes, jumlah kasus campak juga rubella di Indonesia jumlahnya sangat banyak serta dalam kurun waktu 5 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan.  Lebih dari 95% kasus kematian yang disebabkan oleh campak terjadi di beberapa negara dengan pendapatan per kapita yang rendah serta infrastruktur kesehatannya lemah.

Pencegahan Penyakit Campak

Untuk mencegah campak caranya adalah dengan memberikan vaksin campak, gondok dan rubella. Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan cakupan imunisasi secara keseluruhan di Indonesai sudah mencapai 87,33%. Ini merupakan hasil dari kampanye campak dan rubella semenjak tahun 2017 hingga 2018. Namun di beberapa daerah di luar Pulau Jawa cakupan imunisasinya baru mencapai 72,79%, bahkan ada yang kurang dari 50% seperti di Aceh, Sumbar dan Riau.

Dosis vaksin yang adalah 2 dosis. Dosis pertama diberikan ketika anak ketika mereka berusia sekitar 13 bulan, dan dosis kedua diberikan kepada anak saat mereka berusia 3 tahun 4 bulan. Orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar bisa divaksinasi pada usia berapa pun bila mereka belum mendapatkan vaksinasi yang lengkap sebelumnya. 

Untuk orang yang berisiko terkena penyakit campak tapi tidak cocok dengan vaksin campak, gondok dan rubella, maka dia bisa menggunakan pengobatan yang disebut human normal immunoglobulin (HNIG).

Campak Versus Covid-19

Apa hubungannya penyakit campak dan Covid-19? Ternyata penyebab campak dan Covid-19 adalah dua jenis virus yang keduanya menyerang sistem pernapasan. Kedua virus ini, paramyxovirus dan coronavirus mempunyai kemiripan dalam hal bentuk dan karakteristik. Menurut laporan CDC beberapa gejala yang diderita pasien positif Covid-19 di antaranya demam tinggi, sesak nafas, dan batuk. Campak juga memiliki gejala yang mirip dengan Covid-19, seperti demam, gejala seperti flu di antaranya batuk, sakit tenggorokan juga gejala-gejala lainnya.

Karena penyebab penyakit campak hampir mirip dengan Covid-19, kamu harus berhati-hati jika mengalami gejala-gejala seperti demam dan gejala seperti flu. Perhatikan dengan teliti gejala yang kamu alami. Sambil terus menjaga kesehatanmu, kamu juga bisa ikut membantu pasien lain yang memiliki masalah dengan biaya pengobatan. Caranya tinggal download aplikasi WeCare.id di Google Play atau App Store untuk donasi mudah dan praktis kapan saja. 

Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!

Referensi

Lestari, D. A. (2021). Infeksi Coronavirus dan Paramyxovirus, Apa Bedanya? Diambil kembali dari hellosehat.com.

Manafe, D. (2018). Kemkes: Kasus Campak Meningkat 5 Tahun Terakhir. Diambil kembali dari beritasatu.com.

Measles . (2007). Diambil kembali dari nhs.uk.

Measles. (2016). Diambil kembali dari kidshealth.org.

Measles. (2016). Diambil kembali dari medbroadcast.com.

Measles. (2019). Diambil kembali dari who.int.

Secara Keseluruhan Cakupan Imunisasi Campak dan Rubella Capai 87,33 persen. (2019). Diambil kembali dari p2p.kemkes.go.id.