Apa Itu Happy Hypoxia? Seperti Apa Gejalanya?

Sekarang ini para dokter dibuat bingung dengan fenomena yang dikenal oleh beberapa orang sebagai Happy Hypoxia. Apa itu happy hypoxia?

Mengenal Happy Hypoxia

Istilah medis yang tepat adalah silent hypoxia. Happy Hypoxia terjadi ketika orang tidak sadar bahwa mereka kekurangan oksigen. Dikutip dari laman situs Sciencemag, pasien yang terinfeksi dengan kadar oksigen dalam darah yang sangat rendah, atau hipoksia, masih aktif dengan ponsel mereka, mengobrol dengan dokter, dan umumnya menggambarkan diri mereka nyaman. Dokter menyebut mereka happy hypoxics. Sebenarnya mereka datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi kesehatan yang jauh lebih buruk daripada yang mereka sadari.

Hypoxemia atau hipoksemia adalah kekurangan kadar oksigen di dalam darah yang mengakibatkan terjadinya gangguan juga keluhan pada organ tubuh lainnya. Hal ini berbeda dengan happy hypoxia atau silent hypoxia yang sama-sama berkurangnya kadar oksigen di dalam darah tetapi tidak mengalami gejala atapun keluhan pada organ tubuh.

Orang yang sehat diharapkan memiliki saturasi oksigen minimal 95%, tetapi tingkat persentase oksigen yang mengalami happy hypoxia sekitar 80-an atau 70-an persen. Pada beberapa kasus drastis di bawah 50%.

Happy Hypoxia adalah salah satu kondisi yang terlihat pada banyak pasien dengan COVID-19. Dikutip dari laman situs CNN, Dr. Richard Levitan, yang telah menjadi dokter ruang gawat darurat selama sekitar 30 tahun  di Littleton Regional Healthcare di New Hampshire mengatakan biasanya pasien yang mengalami happy hypoxia telah mengalami beberapa gejala Covid-19 selama dua hingga tujuh hari sebelum mereka datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak dada yang tiba-tiba atau ketidakmampuan untuk bernapas dalam-dalam.

Orang yang mengalami happy hypoxia, kadar oksigennya sangat rendah sehingga mereka seharusnya mengalami pingsan atau mengalami kerusakan organ, tetapi sebaliknya, mereka tampak baik-baik saja, sampai akhirnya, mereka ambruk. Kondisi ini sangat membingungkan sehingga para ahli di seluruh dunia menyebutnya sebagai fenomena yang bertentangan dengan biologi dasar karena secara teoritis hal itu mustahil.

Penyebab Happy Hypoxia

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam jurnal Science, Reuben Strayer, seorang dokter darurat di Maimonides Medical Center di New York City mengatakan bahwa ada ketidakcocokan yang besar antara bagaimana rupa pasien dan apa yang ditunjukkan oleh monitor.

Oksimeter pulsa atau Pulse Oximetry digunakan untuk mendeteksi kadar oksigen darah pada pasien COVID-19. Seperti juga dalam kondisi seperti pneumonia, penurunan tingkat saturasi oksigen darah disertai dengan pengumpulan cairan dan peningkatan kadar karbon dioksida di paru-paru. Faktor yang terakhir inilah yang membuat pasien tidak dapat bernapas dengan benar, jadi bukan karena kadar oksigen darah yang rendah.

Jika dibiarkan, hipoksemia, menyebabkan kondisi yang disebut hipoksia (kadar oksigen jaringan rendah), yang dapat menyebabkan kerusakan organ.

Kemungkinan Penyebab Happy Hypoxia

Melansir laman situs Firstpost, studi yang dilakukan oleh Reubeun Strayer menyebutkan kemungkinan penyebab happy hypoxia adalah sebagai berikut:

  • Kesulitan bernafas adalah sebuah gejala, bukan tanda: Dispnea (kesulitan bernafas) adalah gejala yang hanya dialami oleh penderita, dan bukan merupakan tanda yang dapat diamati oleh orang lain di sekitar penderita. Praktisi kesehatan atau perawat tidak bisa mengetahui apakah pasien menderita happy hypoxia sampai pasien menunjukkan tanda-tanda seperti nafas cepat, detak jantung cepat, atau tanda lain yang terkait dengan kondisi tersebut.
  • Karbon dioksida (dan bukan oksigen) memberi tahu otak tentang hipoksia: Otak kita merasakan kadar karbon dioksida, bukan kadar oksigen dalam darah kita. Perubahan ventilasi hanya terjadi setelah tekanan parsial oksigen (PaO2) mulai turun di bawah 60 mmHg. PaO2 adalah ukuran tekanan oksigen dalam darah di arteri. Inilah yang memberi tahu Anda seberapa baik oksigen melewati paru-paru dan masuk ke darah. Tingkat PaO2 yang normal adalah antara 75-100 mmHg.
  • Reseptor Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2), yaitu suatu reseptor di permukaan sel yang terdapat pada sel-sel otak yang merespons hipoksia: Hipoksemia menyebabkan kesulitan bernapas melalui reseptor kimia khusus yang disebut badan karotis yang ada di otak. Reseptor ACE2 adalah sel yang digunakan virus penyebab COVID-19 untuk memasuki sel sehat, juga ada di badan karotis. Jadi, ada kemungkinan reseptor ini mungkin berperan dalam dispnea atau kesulitan bernafas, namun, diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami hal ini.
  • Pulse Oxymetry (alat yang digunakan mengukur kadar oksigen yang terlarut di dalam darah) tidak seefektif pada pasien yang sakit kritis: Pulse Oxymetry tidak seefisien dalam mencatat tingkat saturasi oksigen yang rendah.
  • Demam dapat mempengaruhi cara tubuh kita merespons hipoksia: Demam yang menjadi salah satu gejala COVID-19, mungkin ada hubungannya dengan happy hypoxia. Badan karotis di otak hanya merespon PaO2 dan bukan SaO2 (saturasi oksigen). Namun, keduanya dapat bervariasi pada suhu yang berbeda.

Dikutip dari laman situs UGM, dr. Sumardi, Sp.PD, KP., FINASIM., Sebagai Dokter Spesialis Penyakit Dalam Paru-paru FKKMK UGM, menjelaskan bahwa happy hypoxia terkadang terjadi pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Pulse Oxymetry adalah alat yang digunakan untuk memantau kadar oksigen dalam darah.

Untuk pasien Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala, khususnya yang melakukan isolasi mandiri di rumah, dr. Sumardi mengimbau pasien Covid-19 tanpa gejala untuk melakukan isolasi mandiri dengan lebih baik. Mereka diminta untuk selalu memantau kondisi tubuhnya. Penderita diminta untuk waspada terhadap gejala tubuh yang tiba-tiba lemas walaupun tidak melakukan aktivitas yang mengurangi energinya dan tetap makan dan minum secara normal. Segera laporkan kondisi ini ke rumah sakit. Kekurangan oksigen di organ akan menyebabkan kelelahan sehingga perlu untuk segera ke rumah sakit agar mendapatkan pengobatan yang tepat.

Sambil jaga kesehatan dan terus lakukan upaya pencegahan COVID-19, jangan lupa untuk terus dukung tenaga kesehatan yang berjuang untuk melindungi kita di garda terdepan! Donasi APD untuk tenaga kesehatan di seluruh Indonesia dengan berdonasi di https://wecare.id/apduntuknegeri/ .

Sumber:

https://edition.cnn.com/2020/05/06/health/happy-hypoxia-pulse-oximeter-trnd-wellness/index.html
https://www.firstpost.com/health/happy-hypoxia-in-covid-19-new-study-may-have-found-possible-causes-behind-this-biology-defying-complication-8578751.html
https://www.newswise.com/coronavirus/new-study-explains-potential-causes-for-happy-hypoxia-condition-in-covid-19-patients2
https://science.sciencemag.org/content/368/6490/455
https://ugm.ac.id/en/news/19993-recognizing-happy-hypoxia-syndrome-as-a-new-symptom-of-covid-19
https://tirto.id/gejala-happy-hypoxia-covid-19-yang-bisa-sebabkan-pasien-meninggal-f3rJ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *