Kenali 3 Perbedaan Antara Burnout dan Depresi

Kenali 3 Perbedaan Antara Burnout dan Depresi

Akhir-akhir ini, istilah burnout mulai banyak digunakan oleh mereka yang mengalami stress kerja yang berkepanjangan. Mereka yang mengalami kondisi ini umumnya menunjukkan gejala seperti kelelahan secara fisik dan juga emosional. Berdasarkan gejala tersebut, mungkin kita sulit membedakannya dengan depresi. Lantas, bagaimana cara membedakannya? 

Klik Untuk Donasi - Bantu Rawat ODGJ di Yayasan Jamrud Biru dapat hidup dengan sejahtera
  1. Terdanai Rp.622,000
  2. Pencapaian 1.08%
  3. Donatur 6

Apa Itu Burnout?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO (2019), menyebut burnout sebagai sebuah “fenomena kelelahan bekerja”, yang digambarkan sebagai kondisi stress kronis yang berhubungan dengan tempat kerja. 

Keadaan stress kronis ini bisa muncul karena ekspektasi karyawan dan kenyataannya tidak sama seperti yang diharapkan, misalnya karena kewalahan akan tugas yang diberikan terus-menerus oleh atasan atau karena beban kerja yang tidak sesuai dengan penghasilan. Kondisi ini tidak boleh diabaikan, karena dapat menyebabkan menurunnya produktivitas kerja dan dapat memicu depresi.

Perbedaan Antara Burnout dan Depresi

Meski demikian, untuk membedakan antara burnout dengan depresi memang tak mudah. Sebab gejala keduanya sangat mirip, yaitu kehilangan motivasi untuk melakukan pekerjaan, mudah lelah secara fisik maupun mental, sulit berpikir jernih, dan menarik diri dari lingkungan sosial. 

Serupa namun tak sama, penyebab dan cara mengatasinya pun berbeda. Untuk membedakannya, simak 5 perbedaannya berikut ini:

1. Penyebab Burnout Umumnya Berhubungan Dengan Pekerjaan

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, penyebab utama burnout umumnya cenderung berkaitan oleh pekerjaan. Sindrom ini biasanya muncul karena merasa tidak berdaya dan terperangkap di dalam pekerjaan. 

Misalnya, apa yang membuatmu cemas di akhir pekan karena mengetahui besok harus pergi bekerja lagi, itu bisa jadi pertanda bahwa kamu lelah bekerja. Namun bila kamu merasa lelah fisik dan mental, serta selalu merasa tak termotivasi sepanjang waktu, kemungkinan kamu mengalami depresi.

Namun kita tidak bisa mendiagnosis diri sendiri bahwa kita mengalami depresi. Untuk memastikannya dan mengetahui penyebabnya, berkonsultasi ke psikolog merupakan langkah yang paling baik untuk diambil.

2. Burnout Dapat Diatasi

Ketika sudah merasa lelah karena pekerjaan yang seolah tak ada habisnya dan mulai menunjukkan sindrom burnout, satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan mengambil cuti sejenak. Cara ini memang efektif untuk sesaat, namun ketika kembali bekerja, perasaan lelah tadi bisa muncul kembali. 

Oleh karena itu, kamu bisa mengubah gaya hidupmu seperti mulai makan makanan sehat, rutin berolahraga, istirahat yang cukup agar sehat jiwa dan raga serta terhindar dari risiko burnout di tempat kerja. Jika kamu merasa stress berkepanjangan, jangan sungkan untuk berbicara dengan atasan atau konsultasikan ke psikolog.

3. Depresi Berakar Dari Masalah Personal

Bila burnout dapat diatasi sendiri, namun depresi tidak. Sebab depresi lebih kompleks sehingga membutuhkan bantuan profesional. Bila sindrom burnout umumnya berkaitan dengan masalah pekerjaan, depresi bisa muncul dengan atau tanpa pemicunya sama sekali. Misalnya seperti pengalaman traumatis atau memiliki riwayat gangguan kesehatan mental pada keluarga.

Adopsi dan Tanam Pohon di Hutan

Kesimpulan

Ciri-ciri burnout memang mirip seperti depresi, namun burnout cenderung merupakan permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaan. Sedangkan depresi, tidak selalu berhubungan dengan pekerjaan. Namun kelelahan bekerja yang terjadi berkepanjangan dan berlarut-larut dapat memicu depresi.

Maka itulah, bila kamu mulai mengalami gejala sindrom burnout di tempat kerja, sebaiknya berhenti sejenak untuk istirahat. Lakukan kegiatan positif seperti mengerjakan hobi, berolahraga, atau membantu pasien yang kurang mampu. Dengan membantu mereka yang membutuhkan, kamu akan merasa lebih bahagia karena dapat menyebarkan energi positif sehingga dapat mengurangi stress di tempat kerja.

Agar bisa membantu kapanpun dan di manapun, kamu bisa berdonasi melalui WeCare.id. Semua donasi yang masuk akan diberikan pada mereka yang membutuhkan. Kebaikan darimu sangat berarti untuk mereka. Jadi tunggu apa lagi? Unduh aplikasi WeCare.id di Google Playstore maupun App Store untuk memudahkanmu membantu sesama.

Yuk, ulurkan tanganmu untuk membantu bersama WeCare.id!

Klik Untuk Donasi - Tubuh Figo Membiru akibat Alami Jantung Bocor Sejak Lahir!
Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Figo Reine Maldini
Oleh Medikator
  1. Terdanai Rp.3,556,500
  2. Pencapaian 20.62%
  3. Donatur 33

Referensi: 

National Center for Biotechnology Information. (2020, 18 Juni). Depression: What is burnout? Diakses pada 18 Agustus 2021, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279286/#i2125.symptome-5i.whatisthedifferenceb 

Prevention.com. (2015, 5 November). How To Tell The Difference Between Depression And Burnout. Diakses pada 17 Agustus 2021, dari https://www.prevention.com/life/a20486040/depression-or-burnout/ 

Psychologytoday.com. (2019, 7 November). Depression and Burnout, The Two Conditions are Non-identical Twins. Diakses pada 18 Agustus 2021, dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/envy/201911/depression-and-burnout 

Who.int. (2019, 28 Mei). Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases. Diakses pada 17 Agustus 2021, dari https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *