Apakah Depresi Bisa Memicu Orang untuk Bunuh Diri?

Apakah Depresi Bisa Memicu Orang untuk Bunuh Diri?

Terkadang seseorang memiliki suasana hati yang buruk karena mengalami kegagalan, kekecewaan, dan kesedihan dalam hidup. Selain itu, orang juga bisa mengalami kesedihan tanpa alasan yang jelas. Adakah perbedaan antara suasana hati yang berubah tersebut dengan apa yang disebut depresi? 

Daftar isi:

  1. 1. Apa Itu Depresi?
  2. 2. Tanda-tanda Depresi
  3. 3. Apa Itu Bunuh diri?
  4. 4. Penyebab Depresi
  5. 5. Pengobatan untuk Depresi

Apa Itu Depresi?

Depresi merupakan kondisi medis yang memengaruhi suasana hati dan kemampuan seseorang untuk berfungsi. Beberapa gejalanya, seperti perasaan cemas, sedih atau putus asa. Kondisi seperti ini juga bisa mengakibatkan kesulitan dalam mengingat, berpikir, makan juga tidur. 

Jika didiagnosis mengalami gangguan depresi mayor (depresi klinis) artinya orang tersebut merasa sedih, murung atau hampir setiap hari selalu merasa tidak berharga, setidaknya dua minggu. Selain itu, dia juga mengalami gejala lain di antaranya masalah tidur, perubahan nafsu makan, atau kehilangan minat untuk aktivitas.

Bila tidak menerima pengobatan, bisa menjadi lebih buruk dan berlangsung lebih lama. Saat kondisinya sudah sangat parah, bisa membuat seseorang melukai diri sendiri atau bahkan bunuh diri. Namun dengan perawatan bisa sangat efektif untuk memperbaiki gejala ini.

Tanda-tanda Depresi

Orang yang merasa sedih hampir tiap hari selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan kemungkinan mengalami depresi klinis. Gejala orang yang mengalami kondisi ini, di antaranya:

  • Kehilangan perasaan senang dalam hampir semua aktivitas
  • Merasa lelah atau kekurangan energi
  • Sering menangis
  • Sulit berkonsentrasi atau mengingat 
  • Mengalami perubahan pola tidur, bisa jadi terlalu banyak atau kurang tidur; individu tersebut mungkin terbangun di malam hari atau dini hari dan tidak merasa cukup istirahat keesokan harinya
  • Peningkatan atau penurunan nafsu makan, yang berakibat pada berat badan 
  • Berkurangnya minat pada seks
  • Merasa tidak berharga dan menyalahkan diri sendiri atau perasaan bersalah yang berlebihan
  • Memiliki pemikiran dan kekhawatiran yang tidak realistis, seperti percaya tak ada orang yang menyukai dirinya atau bahwa dia memiliki penyakit mematikan tapi tanpa disertai bukti pendukung.
  • Merasa putus asa tentang masa depan
  • Memiliki pikiran untuk bunuh diri

Apa Itu Bunuh diri?

Bunuh diri merupakan penyebab kematian tertinggi kedua pada orang muda. Penyebab utama bunuh diri yaitu penyakit mental, yang sangat umum adalah depresi. Orang yang memiliki keinginan untuk bunuh diri, umumnya orang tersebut diliputi oleh emosi yang menyakitkan. Dia merasa kalau kematian menjadi satu-satunya jalan keluar dan kehilangan pemikiran bahwa bunuh diri merupakan “solusi” permanen untuk keadaan sementara. 

Banyak orang yang berusaha untuk bunuh diri tapi masih hidup, mereka mengatakan senang karena tidak jadi bunuh diri. Banyak orang yang meninggal karena bunuh diri sebenarnya dapat ditolong. Orang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri sering kali menceritakan keinginannya tersebut kepada seorang teman, yang mungkin bisa meyakinkan dia untuk mencari pengobatan. Apabila risikonya tinggi, teman dan kerabat harus mencari bimbingan profesional untuk orang tersebut.

Penyebab Depresi

Terdapat beberapa kemungkinan yang menyebabkan orang mengalami depresi. Penyebabnya dapat berkisar dari biologis sampai tidak langsung. Melansir laman situs Healthline, berikut ini penyebab yang umum, di antaranya:

  • Sejarah keluarga. Seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalaminya jika dia mempunyai riwayat keluarga depresi atau gangguan mood lainnya.
  • Trauma masa kecil. Beberapa peristiwa mempengaruhi cara tubuh seseorang bereaksi terhadap ketakutan dan situasi stres.
  • Struktur otak. Jika lobus frontal otak seseorang kurang aktif, terdapat risiko lebih besar untuk mengalaminya. Hanya saja, para ahli tidak mengetahui apakah struktur otak ini menjadi seperti itu sebelum ataukah setelah munculnya gejala depresi.
  • Kondisi medis. Kondisi tertentu bisa membuat seseorang pada risiko yang lebih tinggi, seperti insomnia, penyakit kronis, nyeri kronis, atau Kelainan Hiperaktif Karena Kurang Perhatian/Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
  • Penggunaan obat. Seseorang yang memiliki riwayat penyalahgunaan obat ataupun alkohol bisa memengaruhi risiko terkena depresi.

Kurang lebih 21 persen orang yang mempunya masalah penggunaan zat juga mengalami depresi. Selain penyebab di atas, faktor risiko lain yang menyebabkannya di antaranya:

  • Memiliki harga diri yang rendah atau kritis terhadap diri sendiri
  • Memiliki riwayat pribadi penyakit mental
  • Mengkonsumsi obat-obatan tertentu
  • Mengalami kejadian yang membuat stres, seperti masalah ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, atau perceraian

Banyak faktor yang bisa memengaruhi perasaan depresi, serta siapa yang bisa mengalami kondisi tersebut dan siapa yang tidak.

Klik Untuk Donasi - Vaksinasi Untuk Eliminasi COVID-19 | #SinergiUntukJakarta
  1. Terdanai Rp.1,259,000
  2. Pencapaian 0.81%
  3. Donatur 21

Pengobatan untuk Depresi

Meskipun depresi bisa menjadi hal yang serius, kondisi ini bisa juga diobati. Berikut ini perawatan untuk kondisi mental tersebut yang dilansir dari laman situs Cleveland Clinic, di antaranya: 

  • Self-help

Cukup tidur, olahraga secara teratur, dan menghabiskan waktu bersama orang yang disayangi bisa memperbaiki gejala depresi.

  • Konseling

Konseling atau psikoterapi merupakan berbicara dengan profesional kesehatan mental. Konselor bisa membantu seseorang mengatasi masalah dirinya dan mengembangkan keterampilan mengatasi masalah. Kadang-kadang hanya butuh terapi singkat saja. Namun ada juga yang membutuhkan terapi yang lebih lama.

  • Pengobatan alternatif

Orang yang mengalami depresi ringan atau gejala yang berkelanjutan bisa meningkatkan kesejahteraan dirinya dengan terapi komplementer. Terapi tersebut mungkin seperti akupunktur, pijat, hipnosis dan biofeedback.

  • Obat

Obat antidepresan bisa membantu mengubah kimia otak yang menyebabkan depresi. Antidepresan bisa memakan waktu beberapa minggu untuk bereaksi efeknya. Beberapa antidepresan mempunyai efek samping, yang seiring waktu sering membaik. Jika tidak ada perbaikan, dapat membicarakannya dengan dokter. Obat yang berbeda mungkin bisa memiliki efek yang lebih baik.

  • Terapi stimulasi otak

Terapi stimulasi otak bisa membantu orang yang mengalami depresi berat atau depresi dengan psikosis. Jenis terapi ini di antaranya terapi stimulasi magnetik transkranial (TMS), electroconvulsive (ECT), dan stimulasi saraf vagus (VNS).

Depresi merupakan kondisi yang umum di alami banyak orang, hanya saja sebagian ada yang mengalami gejala ringan, sementara yang lain berat. Kondisi ini bisa menyebabkan orang memiliki tendensi untuk melakukan bunuh diri. Jangan abaikan gejalanya dan jika perlu segera temui profesional kesehatan mental. 

Penyebab depresi salah satunya karena kesulitan ekonomi. Di saat pandemi seperti sekarang ini, banyak orang yang kehilangan sumber mata pencaharian mereka.Yuk bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan biaya pengobatan. Caranya dengan berdonasi untuk mereka. Untuk bisa berdonasi, cukup download aplikasiWeCare.id di Google Play atau App Store untuk donasi mudah dan praktis kapan saja. 

Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!

Klik Untuk Donasi - Gizi Adik-Adik Disabilitas Mulai Memburuk
  1. Terdanai Rp.300,000
  2. Pencapaian 1.30%
  3. Donatur 6

Referensi

Depression. (2020). Diambil kembali dari my.clevelandclinic.org.

Depression and Suicide. (2013). Diambil kembali dari caps.ucsc.edu.

Depression and Suicide. (2020). Diambil kembali dari hopkinsmedicine.org.Higuera, V. (2020). Everything You Want to Know About Depression. Diambil kembali dari healthline.com.

Sumber Featured Image : Pixabay.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *