Mohammed, pengungsi asal Somalia yang terancam buta

‘Assalamualaikum sister…’

Itulah kata yang pertama kali Mohammed ucapkan saat kami bertemu. Hari rabu, 14 November 2018, aku membuat janji untuk bertemu Mohammed di depan rumah detensi Imigrasi di Kalideres.

Saat tiba disana, terlihat ratusan pengungsi dan puluhan keluarga sedang berkumpul dengan ramai di depan rumah detensi imigrasi untuk menanyakan kejelasan nasib mereka. Apakah mereka akan mendapatkan tempat berteduh hari ini? Atau mereka harus tetap tidur di pinggir jalan dengan beralaskan tikar?

mohammed_kalideres

Senang sekali akhirnya bertemu dengan tim WeCare.id, akhirnya saya bisa punya harapan untuk dioperasi.”, begitu ucap Mohammed yang sudah fasih berbicara Bahasa Indonesia. Mohammed memang sekarang sedang menunggu dana terkumpul lewat website WeCare.id agar dapat segera mendapatkan operasi mata.

Mohammed bercerita kalau dia merasakan ada kelainan pada matanya dari saat dia berusia 10 tahun. Oleh dokter, Mohammed didiagnosis menderita Sikratik Kornea. Waktu di Somalia, Mohammed sudah berkali-kali mendatangi rumah sakit untuk mendapatkan tindakan medis. Namun sayang, teknologi untuk menyembuhkan penyakit yang diderita Mohammed belum tersedia di mayoritas rumah sakit disana dan kalaupun ada, biayanya sangat mahal.

“Idza shodaqol ‘azmu wa dhohassabiilu. Saya percaya dengan kata-kata, ‘Dimana ada keinginan, disana ada jalan.’ Waktu saya mendatangi dokter di Jakarta dan mereka bilang operasi untuk mata saya mencapai puluhan juta rupiah, saya langsung bingung. Kemana Saya harus mencari dana?

Disini Saya tidak punya siapa-siapa. Saya tidak bisa bekerja karena status Saya sebagai pengungsi. Untuk makan saja, Saya menunggu sumbangan makan siang dari orang lain.  Karena Saya tinggal di pinggir jalan, kalau hujan, Saya dan pengungsi lainnya dari Somalia dan Afghanistan harus mencari halte untuk berteduh.”

anak_somalia

Memang perjalanan Mohammed menghindari perang di Somalia sangat berat dan berliku.  Semenjak kecil, Mohammed sudah menjadi anak yatim karena ayahnya dibunuh oleh kelompok radikal militan di Somalia. Mohammed pun diancam akan dibunuh kalau tidak mau bergabung dengan kelompok tersebut.

“Di Somalia, banyak sekali perang saudara dan suara bom sudah tidak aneh lagi bagi Saya. Minggu kemarin saja, ada perang lagi disana dan katanya ada 60 orang yang meninggal dunia. Saya kabur dari Somalia karena berharap Saya akan memiliki hidup yang lebih baik di negara lain.

2 tahun lalu, saya menjadi pengungsi di Makassar.Karena saya ingin mendapatkan perlindungan sebagai pengungsi di Indonesia, Saya pergi ke Jakarta 8 bulan lalu. Disini saya tinggal di Kalideres, di pinggir jalan bersama para pengungsi lain.

Setiap hari, Saya berharap dapat mendapatkan tempat tinggal yang tetap. Sudah 8 bulan saya menunggu giliran dipanggil untuk dapat shelter, tapi sampai sekarang saya belum beruntung.”

Karena tingal di pinggir jalan, mata Mohammed yang sudah mulai rusak terus terpapar polusi dan asap. Mohammed merasakan pandangan matanya makin kabur hari ke harinya karena ini. Dokter bahkan sempat bilang kalau tidak segera ditangani, Mohammed bisa mengalami kebutaan.

mata_mohammed

“Harapan saya sangat sederhana sekarang, saya hanya ingin mendapatkan pandangan saya kembali dan tempat untuk berteduh. Insya Allah…”

_ _ _ _

#temanPEDULI, mari kita bantu Mohammed untuk mendapatkan penglihatannya kembali. Kamu bisa memberikan donasi untuk Mohammed melalui halaman https://wecare.id/patient/mohammed atau melalui halaman OVO deals.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *