Waspadai Polip Rahim, Masalah Kesehatan Wanita

Waspadai Polip Rahim, Masalah Kesehatan Wanita

Salah satu masalah kesehatan yang dialami oleh para wanita adalah polip rahim. Mungkin sebagian orang ada yang berpikir kalau penyakit ini adalah sejenis kanker ganas. Benarkah demikian?

Miris! Seorang Ibu tidak Menunggak Biaya Persalinan Buah Hatinya!

Apa Itu Polip Rahim?

Polip rahim adalah pertumbuhan jaringan abnormal pada lapisan di dalam rahim, atau endometrium. Penyakit ini terkadang disebut polip endometrium. Gejala yang ditimbulkan akibat penyakit ini contohnya adalah siklus menstruasi yang tidak teratur.

Polip rahim merupakan penyakit yang sangat umum terjadi. 3 dari 10 wanita kemungkinan menderita penyakit ini, tetapi wanita yang menderita polip sebelum usia 30 tahun jumlahnya kurang dari 1 dari 100 orang. Kemungkinan wanita menderita polip ini terus meningkat dengan bertambahnya usia, memuncak pada usia 50-an, dan secara bertahap menurun setelah menopause. 

Polip yang ukurannya kecil kemungkinan tidak akan menimbulkan gejala sama sekali. Selain itu, polip tersebut bisa hilang dengan sendirinya. Ada juga kasus dimana polip yang tidak mendapatkan pengobatan bisa mengakibatkan gejala yang mempengaruhi kualitas hidup serta bisa berubah menjadi kanker, tapi kemungkinannya kecil. Disebutkan kalau polip rahim juga bisa mempengaruhi kesuburan, namun penelitian mengenai topik ini masih kurang.

Apa Penyebab Polip Rahim?

Penyebab pasti polip rahim tidak diketahui. Namun tampaknya kadar hormon mempengaruhi penyakit ini. Selain itu, polip endometrium muncul sebagai respons terhadap estrogen yang bersirkulasi dalam darah.

Bertambahnya usia juga bisa meningkatkan kemungkinan wanita terkena polip endometrium. Faktor penyebab lainnya yaitu obesitas. Obesitas meningkatkan kadar estrogen di dalam darah, sehingga juga akan meningkatkan risiko polip rahim. Pengobatan dengan obat tamoxifen juga merupakan faktor risiko yang bisa memunculkan polip endometrium. Obat ini digunakan dalam pengobatan kanker payudara. Sekitar 8-36% wanita pascamenopause yang diberi pengobatan dengan tamoxifen mengalami polip.

Polip rahim memiliki kemiripan dengan salah satu jenis fibroid rahim. Berbeda dari polip, fibroid terbentuk dari jaringan otot di dalam rahim. Meski demikian, keduanya menimbulkan gejala yang sama, serta gejala lainnya. Perbedaan yang paling menonjol yaitu fibroid lebih cenderung bermasalah selama masa reproduksi dan menyusut sesudah mengalami menopause. Sementara itu, polip lebih cenderung bermasalah sesudah menopause.

Klik Untuk Donasi - Miris! Seorang Ibu mengalami Kehamilan Ektopik dan Menunggak Biaya Rumah Sakit
Kehamilan Ektopik (KEK), Obstruksi ...
Vitria Dhealovanie
Oleh Medikator
  1. Terdanai Rp.32,437,319
  2. Pencapaian 88.13%
  3. Donatur 272

Gejala Polip Rahim

Kebanyakan wanita yang mengalami polip rahim tidak memperlihatkan gejala sama sekali. Adapun gejala yang mungkin timbul pada mereka yang mengalami adalah:

  • Pendarahan menstruasi yang tidak teratur, dari segi jumlah dan intervalnya yang tak bisa diprediksi 
  • Pendarahan yang terjadi di antara periode menstruasi
  • Nyeri menstruasi yang sangat sakit
  • Menstruasi yang terlalu banyak
  • Keputihan yang tidak normal
  • Pendarahan setelah menopause
  • Susah untuk hamil walaupun aktif berhubungan intim pada masa subur

Bagaimana Polip Rahim Didiagnosis?

Penyedia layanan Kesehatan, seperti rumah sakit mungkin akan menanyakan tentang gejala dan riwayat medis dan menstruasi serta melakukan pemeriksaan fisik yang sederhana. Apabila dicurigai pasien menderita polip rahim, petugas kesehatan akan melakukan salah satu langkah berikut:

  • USG transvaginal
  • Biopsi: Caranya yaitu dengan memasukkan alat kecil ke dalam rahim untuk mengambil sampel jaringan
  • Histeroskopi: dimasukkan kamera kecil ke dalam rahim
  • Histerosonografi atau sonohisterografi: Prosedur ini digunakan oleh dokter saat dilakukan USG transvaginal. Sebuah tabung tipis yang disebut sebagai kateter di pasang di dalam vagina  dan lewat kateter air garam disuntikan ke dalam rahim. Cairan tadi membuat rahim jadi luas sehingga hasil utrasound jadi lebih helas. 
  • Kuretase: Dokter menggunakan instrumen logam yang disebut kuret untuk mendapatkan potongan polip atau jaringan di rahim untuk diuji. 

Pengobatan Polip Rahim

Polip rahim yang ukurannya kecil tanpa pengobatan bisa hilang dengan sendirinya. Jika polip menjadi bermasalah, terdapat pilihan pengobatan, di antaranya: 

  • Obat-obatan

Pasien terkadang diberikan obat hormonal untuk mengobati gejala polip Rahim, seperti agonis Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH). Obat ini dapat menghalangi produksi hormon progesteron tertentu, dan progesterone. Obat ini kerap diresepkan dalam bentuk krim. Sudah ada penelitian mengenai efektivitas perawatan ini tetapi jumlahnya sedikit. 

  • Operasi non-invasif

Untuk polip rahim yang ukurannya kecil bisa diangkat melalui proses yang dinamakan eksisi histeroskopi. Kurang lebih 7 dari 10 wanita yang memiliki polip dengan ukuran kurang dari 1 cm mendapati gejala mereka membaik secara signifikan setelah menjalani prosedur ini.

  • Perubahan Gaya Hidup

Meski penelitian mengenai hal ini masih belum jelas, namun penurunan berat badan bisa meningkatkan prognosis, atau prediksi tentang perkembangan suatu penyakit, wanita yang mengalami polip rahim serta obesitas.

Itulah informasi seputar polip rahim, salah satu masalah kesehatan yang biasa dialami oleh para wanita, terutama mereka yang sudah mengalami menopause. Meski tidak tergolong tumor ganas, kamu tetap harus memeriksakan diri segera jika mengalami gejala yang disebutkan. Selain polip rahim, penyakit yang juga kerap diderita para wanita adalah kanker rahim. Beberapa pasien mengalami kesulitan biaya pengobatan. Kamu bisa membantu mereka dengan berdonasi melalui WeCare.id. Caranya mudah sekali. Cukup unduh aplikasi WeCare.id di ponselmu melalui Google Store atau App Store. Apa pun dan berapa pun donasi yang kamu berikan akan sangat membantu pasien yang membutuhkan. 

Yuk, donasi sekarang melalui WeCare.id!

Referensi

Afifah, M. N. (2022). Mahardini Nur Afifah. Diambil kembali dari https://health.kompas.com/.

Reese, D. (2022). Uterine Polyps. Diambil kembali dari webmd.com.

Uterine polyps. (2015). Diambil kembali dari womens-health-concern.org.

Uterine Polyps. (2021). Diambil kembali dari columbiadoctors.org.

Uterine polyps: A common reason for irregular bleeding around menopause. (2017). Diambil kembali dari helloclue.com.