Mengenal Kecanduan Media Sosial dan Tanda-Tandanya

Mengenal Kecanduan Media Sosial dan Tanda-Tandanya

Selama dekade terakhir popularitas platform media sosial kiat meningkat terus. Banyak sekali jenis platform yang bermunculan. Berawal dari Friendster, Yahoo Messenger, Last.fm platform ini terus berkembang. Yang sekarang banyak digemari adalah TikTok. Platform yang satu ini tak hanya disukai remaja bahkan sampai anak kecil pun hobi bermain TikTok. Semua platform tersebut tampak tidak berbahaya, namun ternyata bisa memunculkan kecanduan, seperti halnya judi, seks, dan pornografi. 

Penggunaan media sosial secara terus-menerus atau berlebihan bisa mempunyai pengaruh yang berbahaya pada cara otak memproses kesenangan dan penghargaan.

Klik Untuk Donasi - Kebaikan Bermakna untuk Sesama
  1. Terdanai Rp.8,973,227
  2. Pencapaian 17.95%
  3. Donatur 290

Apa itu Kecanduan Media Sosial?

Sekarang ini aktivitas yang sering kita lihat saat menunggu kendaraan umum atau teman, mengantre, berada di dalam kendaraan, bahkan sebelum tidur adalah scrolling dan mengecek media sosial. Aktivitas ini dilakukan mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Sebagian dari penggunanya ada yang berlebihan dalam penggunaannya yang tanpa disadari sudah menjadi sebuah kecanduan.

Lalu apa itu kecanduan media sosial? Ini adalah kecanduan perilaku yang ditandai dengan terlalu khawatir tentang media sosial. Kekhawatiran ini muncul karena didorong oleh dorongan tak terkendali untuk mengakses atau menggunakannya, dan menghabiskan banyak waktu ketika menggunakannya sehingga mengganggu aspek kehidupan penting yang lain.

Apa tanda dan gejala Kecanduan Media Sosial?

Seseorang kemungkinan memperlihatkan tanda yang menunjukkan dia memiliki kecanduan media sosial. Tanda dan gejala kecanduan media sosial yang paling umum, yaitu:

  • Berbohong tentang waktu yang dihabiskan untuk online

Seseorang yang mengalami kecanduan media sosial kerap kali merasa malu untuk mengakui waktu yang dia dihabiskan ketika mengakses media sosial. Akibatnya, orang tersebut akan berbohong kepada orang yang dicintai mengenai waktu yang dia dihabiskan untuk mengakses beragam platform.

  • Menjadikan media sosial sebagai alat coping mechanism

Bisa jadi seseorang akan semakin sering menggunakan media sosial untuk mengatasi masalah atau perasaan negatif, misalnya kesepian, kecemasan sosial, kebosanan, atau stres.

  • Merasa gelisah saat tidak mengakses media sosial

Seseorang yang mengalami kecanduan media sosial bisa mengalami kegelisahan atau bermasalah ketika dia tidak dapat menggunakan platform tersebut. Orang tersebut mungkin menyadari perasaan yang dirasakannya tapi dia merasa tak bisa mengendalikannya. 

  • Mengabaikan tanggung jawab terkait sekolah atau pekerjaan

Karena menghabiskan sebagian besar waktu dan energi untuk mengakses media sosial, maka orang yang kecanduan akan cenderung mengabaikan tanggung jawab terkait sekolah atau pekerjaan.

  • Menarik diri dari teman dan keluarga

Karena lebih suka menghabiskan lebih banyak waktu di dunia maya mungkin hubungan pribadi pecandu media sosial akan terganggu. Dia bisa saja menarik diri dari keluarga dan teman, mengalami kesulitan untuk tetap berada di saat ini sebab dia memberikan perhatian penuhnya pada media sosial.

Faktor yang Berkontribusi pada Kecanduan Media Sosial

Berdasarkan sebuah makalah yang dipresentasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health, ada beberapa faktor berkontribusi terhadap kecanduan jejaring sosial. Di antara faktor-faktor tersebut yaitu:

  1. Fear of Missing Out/Takut Kehilangan (FOMO)

FOMO adalah sebuah perasaan takut dan cemas yang muncul di dalam diri karena ketinggalan sesuatu yang baru, misalnya tren, berita, dan lain-lain. FOMO juga bisa memprediksi penggunaan media sosial yang bermasalah.

  1. Kecanduan smartphone

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Nottingham Trent University yang dipublikasikan pada tahun 2017 yang masih dalam perbedatan, pecandu ponsel mungkin lebih kecanduan ponsel mereka jika dibandingkan dengan pecandu alkohol dengan minuman mereka. Di kalangan pengguna ponsel, penggunaan aplikasi media sosial sangat popular. Misalnya saja, sekitar 75 persen pengguna Facebook mengakses platform tersebut melalui ponsel mereka.

Syukuran Ultah Jungkook dan RM Dengan Berbagi kepada Pasien Jantung

  1. Nomophobia

Nomophobia yaitu ketakutan atau kecemasan yang dirasakan seseorang jika tanpa ponsel mereka.  Menurut penelitian di atas, secara inheren, nomophobia merupakan rasa takut akan terputus, dan penelitian sudah menghubungkannya dengan penggunaan internet yang bermasalah.

  1. Masalah Kesehatan Mental yang Sudah Ada Sebelumnya

Orang yang sudah mempunyai masalah kesehatan mental kerap kali lebih cenderung menjadi kecanduan media sosial. Sebuah penelitian di Texas University memberikan contoh yang menunjukkan bahwa seseorang yang sudah memperlihatkan tanda-tanda gangguan kecemasan umum cenderung tertarik ke media sosial untuk menghilangkan kecemasan mereka. Namun yang terjadi justru mereka malah menjadi lebih cemas.

Mengenali Kecanduan Media Sosial

Meski jumlah orang yang menggunakan media sosial cukup banyak, tapi yang kecanduan sangat sedikit. Untuk menentukan apakah seseorang berisiko mengalami kecanduan, tanyakan 6 pertanyaan berikut:

  1. Apakah mereka menghabiskan banyak waktu memikirkan tentang media sosial atau berencana menggunakan media sosial?
  2. Apakah mereka merasa terdorong untuk menggunakan media sosial lebih lama lagi tiap harinya?
  3. Apakah mereka menggunakan media sosial untuk melupakan masalah pribadi?
  4. Apakah mereka sering mencoba mengurangi penggunaan media sosial tetapi tidak berhasil?
  5. Apakah mereka menjadi gelisah atau bermasalah jika tidak bisa menggunakan media sosial?
  6. Apakah mereka terlalu sering menggunakan media sosial sehingga berdampak negatif pada pekerjaan atau sekolah mereka?

Jika menjawab lebih dari 3 ya untuk pertanyaan di atas, maka dapat diindikasikan kalau individu tersebut memiliki kecanduan media sosial.

Media sosial bisa bermanfaat bisa juga mendatangkan bahaya seperti kecanduan. Jika tidak bisa mengontrol penggunaannya, maka beragam aplikasi tersebut dapat mengganggu aspek kehidupan kita. 

Namun kita bisa memanfaat media sosial untuk sesuatu yang bermanfaat, misalnya berdonasi untuk pasien yang membutuhkan biaya pengobatan. Caranya hanya perlu mengunduh aplikasi WeCare.id di Google Play atau App Store untuk donasi mudah dan praktis kapan saja. 

Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!

Referensi

Hilliard, J. (2019). Social Media Addiction. Diambil kembali dari addictioncenter.com.

Murphy, E. (2021). Social Media Addiction. Diambil kembali dari recovered.org.

Social Media Addiction Symptoms, Causes and Effects. (2022). Diambil kembali dari diamondrehabthailand.com.

What is Social Media Addiction? (2022). Diambil kembali dari socialmediavictims.org.

Sumber Featured Image : Thomas Ulrich dari Pixabay