Seasonal Affentive Disorder: Perlukah Kita Khawatir?

Seasonal Affentive Disorder: Perlukah Kita Khawatir?

Tinggal di rumah selama masa pandemi tentunya bisa membuat kita semua mudah merasa stres. Bahkan ada juga yang mungkin berkembang menjadi depresi. Tapi apa jadinya jika kamu mengalami Seasonal Affentive Disorder (SAD)? Apa kita perlu khawatir dengan jenis depresi yang satu ini? Mari kita simak penjelasannya.

Daftar isi:

  1. 1. Kenal lebih jauh dengan Seasonal Affentive Disorder
  2. 2. Penyebab Seasonal Affentive Disorder
  3. 3. Cara mengobati SAD

Kenal lebih jauh dengan Seasonal Affentive Disorder

Seasonal Affentive Disorder atau dikenal juga dengan nama SAD, merupakan jenis depresi yang berhubungan dengan perubahan musim. Beberapa orang yang mengidap penyakit ini biasanya akan merasa perubahan hati pada saat musim berganti.

Dalam beberapa kasus, perubahan suasana hati ini dapat mempengaruhi kegiatan sehari-hari. Jika kamu merasakan perubahan seperti ini saat musim berganti, kamu mungkin menderita gangguan SAD ini.

Tanda dan gejala SAD antara lain:

  • Merasa tertekan hampir setiap hari
  • Tidak bersemangat menjalani aktivitas yang biasanya kamu nikmati
  • Memiliki energi yang rendah
  • Mengalami masalah dengan tidur
  • Mengalami perubahan nafsu makan atau berat badan
  • Merasa lesu atau gelisah
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Merasa putus asa, tidak berharga atau bersalah
  • Sering memikirkan kematian atau bunuh diri

Klik Untuk Donasi - Alami Kecelakaan Setelah Jual Nasi Goreng, Jaka Butuh Pertolonganmu Segera!
Patah Tulang
Jaka
Oleh Medikator
  1. Terdanai Rp.327,000
  2. Pencapaian 1.58%
  3. Donatur 13

Penyebab Seasonal Affentive Disorder

Hingga saat ini, para ilmuwan masih belum memahami penyebab SAD. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengidap SAD memproduksi serotonin yang lebih sedikit. Kimia otak inilah yang membantu kita mengatur suasana hati.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa sinar matahari membantu mempertahankan kadar serotonin normal. Karena itu, pengidap SAD mengalami penurunan SAD saat waktu siang hari lebih pendek.

Selain itu, orang yang mengidap SAD juga menghasilkan terlalu banyak melatonin yang berguna untuk mempertahankan siklus tidur normal. Kadar melatonin yang berlebih bisa meningkatkan rasa kantuk.

Perubahan kadar serotonin dan melatonin inilah yang mengganggu ritme harian normal para pengidap SAD. Akibatnya, perubahan musim bisa menyebabkan perubahan tidur, suasana hati, dan perilaku.

Kekurangan vitamin D dapat memperburuk masalah ini karena vitamin D dipercaya dapat meningkatkan aktivitas serotonin. Selain mengonsumsi vitamin D dengan pola makan, tubuh memproduksi vitamin D saat kulit terkena sinar matahari.

Besarnya pengaruh sinar matahari pada kondisi SAD ini menjadi alasan pengidap gangguan ini banyak yang berasal dari wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa. Semakin jauh lokasinya, semakin besar pula jumlah pengidapnya.

Donasi Bencana Indonesia: Bantu Korban di Berbagai Titik Bencana!

Cara mengobati SAD

Untuk membantu kondisinya, para penderita SAD biasanya akan mendapatkan beberapa jenis terapi seperti:

Terapi cahaya

Sejak 1980-an, terapi ini telah digunakan untuk pengobatan SAD. Si penderita harus duduk di depan kotak cahaya dengan tingkat cahaya mencapai 10,000 lux (satuan intensitas cahaya) setiap hari selama 30-45 menit. Terapi ini dilakukan di pagi hari, pada saat musim gugur hingga musim semi.

Terapi bicara

Terapi perilaku kognitif ini bertujuan untuk membantu para pengidap SAD untuk mengubah pola pikir negatif selama terjadinya pergantian musim. Karena itu, terapi ini biasanya berlangsung selama enam minggu.

Walau terapi cahaya dan terapi bicara ini dapat membantu meringankan kondisi SAD, para peneliti menemukan bahwa dengan menjalani terapi cahaya, beberapa gejala tampaknya membaik sedikit lebih cepat. Namun efek positif dari terapi bicara justru bertahan lebih lama.

Konsumsi obat anti depresan

Karena SAD, seperti jenis depresi lainnya, dikaitkan dengan gangguan aktivitas serotonin, obat antidepresan yang disebut selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) juga digunakan untuk mengobati SAD saat gejala muncul. Obat-obatan ini dapat meningkatkan mood pasien secara signifikan. SSRI yang umum digunakan termasuk fluoxetine, citalopram, sertraline, paroxetine, dan escitalopram.

Konsumsi vitamin D

Pengidap SAD sering kali mengalami kekurangan vitamin D. Karena itu suplemen vitamin D dapat membantu meringankan gejalanya. Namun penelitian mengenai efektivitas vitamin D dalam pengobatan SAD menghasilkan temuan yang beragam. Beberapa temuan menunjukkan bahwa konsumsi vitamin D sama efektifnya dengan terapi cahaya, namun temuan lain justru tidak menemukan efek apa pun.

Mengingat Indonesia berada di garis khatulistiwa, kecil sekali kemungkinan bagi kamu untuk mengidap tipe depresi ini. Daripada khawatir berlebihan, lebih baik luangkan waktu dengan membantu pasien tidak mampu yang mengidap berbagai penyakit.

Kamu juga bisa berdonasi lebih mudah melalui aplikasi WeCare.id. Caranya, download aplikasi WeCare.id di ponselmu. Donasi yang kamu berikan tentu sangat berharga untuk teman-teman yang membutuhkan.

Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!

Dukung WeCare.id untuk mengembangkan
konten-konten kesehatan & kebaikan yg lebih berkualitas.

WeCare.id adalah portal penggalangan dana untuk pasien-pasien yang tidak mampu. Dengan berdonasi ke WeCare.id, kamu juga turut membantu pasien-pasien di seluruh Indonesia.

KLIK UNTUK DONASI

Referensi

Torres, Felix, M.D., MBA, DFAPA (2020). Seasonal Affective Disorder (SAD). psychiatry.org

The National Institute of Mental Health (2021). Seasonal Affective Disorder. nimh.nih.gov

Mayo Clinic Staff (2017). Seasonal affective disorder (SAD). mayoclinic.org

Cleveland Clinic medical professional (2020). Seasonal Depression. clevelandclinic.org

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *