slot thailandslot thailandslot88slot777

Kisah Tragis Raya: Kenali Penyebab Cacingan Pada Anak

Kisah Tragis Raya: Kenali Penyebab Cacingan Pada Anak

Peristiwa tragis terjadi pada Raya, bocah tiga tahun asal Sukabumi. Anak tersebut meninggal setelah dokter mengeluarkan kurang lebih satu kilogram cacing dari dalam tubuhnya. Tragedi ini menyentak perhatian publik dan kembali menyoroti penyebab cacingan pada anak-anak Indonesia.

Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya memahami penyebab cacingan dan dampak buruknya terhadap kesehatan anak. Mari baca pembahasan lengkap yang sudah kami siapkan dalam artikel di bawah ini.

Kisah Tragis Gadis Kecil Bernama Raya

Dunia kesehatan Indonesia sempat diguncang oleh kisah pilu Raya yang meninggal dunia pada Juli 2025 setelah ditemukan sekitar 1 kg cacing gelang dalam tubuhnya. Tragedi ini bukan sekadar cerita duka, tetapi menjadi alarm keras tentang betapa berbahayanya Penyakit cacingan jika tidak ditangani dengan serius.

Dalam waktu singkat, kondisi kesehatannya memburuk, dimulai dari penurunan berat badan, lemas, dan akhirnya kritis. Saat dirawat di rumah sakit, dokter menemukan ribuan cacing di dalam tubuh hingga keluar lewat hidung dan anus. Infeksi cacing—terutama ascaris atau cacing gelang—menjadi pemicu utama kematian tersebut.

Kasus Pilu Serupa dari India

Dalam publikasi Journal of Indian Academy of Forensic Medicine tahun 2021 ditemukan kasus kematian seperti Raya, di mana dalam tubuh pasien ditemukan cacing gelang. Penelitian ini melaporkan sebuah kasus kematian mendadak pada seorang anak laki-laki berusia 2 tahun yang terjadi karena infeksi cacing gelang bernama Ascaris lumbricoides.

Kasus ini terjadi di India dan tergolong sangat langka. Biasanya infeksi Ascaris menyebabkan masalah kesehatan secara perlahan, seperti malnutrisi dan gangguan pencernaan, namun tidak langsung menyebabkan kematian mendadak.

Pada kasus ini, ditemukan bahwa kematian anak tersebut disebabkan oleh tersumbatnya saluran pernapasan akibat satu ekor cacing gelang yang masuk ke tenggorokan atau saluran napasnya, sehingga anak tersebut mengalami sesak napas parah dan meninggal dunia.

Kondisi seperti ini disebut sebagai kematian akibat asfiksia mekanik, yang berarti kematian karena saluran napas terhalang secara fisik.

Penelitian ini juga membahas kasus-kasus serupa di mana cacing Ascaris bisa menghalangi saluran napas, seperti di trakea (batang tenggorokan) dan laring (pangkal tenggorokan), yang menyebabkan masalah pernapasan serius. Kejadian ini jarang, tapi serius jika terjadi.

Intinya, meskipun Ascaris lumbricoides paling sering menimbulkan infeksi saluran pencernaan dan masalah gizi, dalam kasus langka seperti ini cacing tersebut bisa menyumbat saluran pernapasan dan menyebabkan kematian mendadak.

Bentuk Cacing Gelang dan Bahaya dalam Tubuh

Cacing gelang (Ascaris lumbricoides) merupakan salah satu parasit yang paling sering ditemukan sebagai bentuk cacing gelang penyebab penyakit cacingan di Indonesia. Cacing ini berukuran besar, bahkan bisa mencapai panjang 35 cm dan mudah terlihat dengan mata.

Cacing gelang hidup di usus manusia, mencuri nutrisi penting setiap hari, dan bisa berpindah ke paru-paru hingga otak apabila infeksi sangat parah. Kasus ekstrem seperti pada Raya, tumpukan cacing di saluran pencernaan bisa menyebabkan sumbatan, infeksi berat, bahkan kematian.

Penyakit Cacingan: Dari Penularan hingga Dampaknya

Penyakit cacingan bukan hanya sebatas gangguan pencernaan. Infeksi cacing terjadi melalui makanan atau minuman yang tercemar, kontak dengan tanah kotor, atau kebiasaan tidak menjaga kebersihan seperti tidak mencuci tangan sebelum makan. Telur cacing kemudian menetas, berkembang biak, dan mengakibatkan berbagai keluhan:

  1. Berat badan turun drastis
  2. Perut buncit
  3. Nafsu makan hilang
  4. Anemia
  5. Perkembangan otak terganggu
  6. Lemas, letih, bahkan infeksi berat

Infeksi yang lama dapat menyebabkan anak mengalami stunting, daya tahan tubuh menurun, hingga sulit konsentrasi belajar. Cacing parasit—terutama jenis yang menginfeksi manusia seperti cacing gelang, kremi, dan pita—mampu mengambil darah atau mencuri zat gizi tubuh secara terus-menerus.

Penyebab Cacingan dan Faktor Risiko

Studi pada jurnal Scientific Reports (2024) menunjukkan penyebab cacingan. Pola hidup yang tidak sehat, seperti mengabaikan cuci tangan sebelum santap, bermain di tanah kotor, dan jarang memangkas kuku, memberikan andil besar terhadap meningkatnya angka infeksi parasit cacing. 

Ini menunjukkan perlunya edukasi kesehatan dan kebersihan yang lebih baik untuk mencegah infeksi cacing pada anak dan remaja.

Beberapa faktor risiko yang perlu diperhatikan:

  1. Sanitasi buruk: Lingkungan dengan akses air bersih terbatas dan praktik buang air besar sembarangan meningkatkan risiko kontaminasi.
  2. Kebersihan pribadi: Tidak mencuci tangan sebelum makan, setelah BAB, atau setelah bermain di tanah dapat mempermudah penularan.
  3. Kebersihan Pangan: Konsumsi makanan tidak steril seperti hidangan mentah atau kurang matang, serta buah dan sayuran yang tidak dibersihkan dengan baik, dapat memicu masuknya telur parasit ke dalam tubuh.

Keluarga Raya tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang buruk, dan orang tuanya juga menderita TB, menunjukkan keterkaitan dengan kondisi kemiskinan dan kurangnya akses kesehatan.

Cara Mencegah dan Mengobati Cacingan

Pencegahan Penyakit cacingan dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

  1. Rajin membersihkan tangan: Manfaatkan sabun dan air mengalir, khususnya sebelum makan dan usai dari toilet.
  2. Selalu kenakan sandal atau sepatu: Hindari aktivitas tanpa alas kaki di permukaan tanah agar larva cacing tambang tidak menembus kulit.
  3. Konsumsi makanan matang: Pastikan mengonsumsi makanan yang sudah matang dan air minum yang bersih dari sumber yang terjamin.
  4. Laksanakan program pemberian obat cacing berkala: WHO dan IDAI merekomendasikan konsumsi obat antiparasit setiap 6 bulan pada anak usia di atas 2 tahun.
  5. Jaga kebersihan lingkungan: Bersihkan rumah dan lingkungan secara rutin, termasuk mainan anak dan seprai.

Untuk pengobatan, jika sudah terinfeksi, beberapa obat yang umum digunakan adalah albendazole, mebendazole, atau pyrantel pamoate. Namun, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan untuk diagnosis dan penanganan yang tepat

Prevalensi Cacingan di Indonesia

Masalah penyakit cacingan di Indonesia masih sangat tinggi. Melansir jurnal Promotif Preventif (2025) hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 menunjukkan angka prevalensi cacingan pada anak balita sekitar 2,8%, tetapi di wilayah dengan sanitasi buruk angkanya bisa mencapai 62-80%—sebagian besar terjadi pada anak usia sekolah dasar.

Faktor kemiskinan, sanitasi buruk, serta rendahnya kesadaran menjaga kebersihan menjadi lingkaran penyebab.

Waspada dan Lindungi Anak dari Penyebab Cacingan

Musibah yang menimpa Raya wajib menjadi pelajaran bersama agar tak ada lagi anak-anak Indonesia yang menjadi korban penyakit cacingan. Mulailah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, biasakan cuci tangan sebelum makan, pastikan makanan dan air matang serta rajin memeriksakan kesehatan anak secara berkala.

Dengan memahami penyebab cacingan dan mengambil langkah pencegahan yang tepat, kita dapat melindungi anak-anak dan keluarga dari ancaman ini. Jangan remehkan gejala cacingan—segera bawa ke fasilitas kesehatan jika anak tampak lesu, kurus, dan nafsu makan menurun.

Kunjungi blog kami di WeCare.id untuk artikel informatif dan tips kesehatan terkini. Bersama, kita wujudkan generasi sehat dan ceria!

Referensi

4 Penyebab Cacingan dan Cara Mencegahnya yang Tepat. (2024). Diambil kembali dari www.alodokter.com.

8 Gejala Cacingan pada Anak dan Cara Mengatasinya. (2023). Diambil kembali dari www.alodokter.com.

Desideria, B. (2025). Kisah Raya Bocah Sukabumi, Jadi Pengingat Cacingan Masih Mengancam Anak Indonesia. Diambil kembali dari www.liputan6.com.

Desideria, B. (2025). Mengenal Cacing Gelang yang Menginfeksi Raya Bocah Sukabumi, Panjangnya Bisa Capai 35 Cm. Diambil kembali dari www.liputan6.com.

Dwi, I. (2025). Kasus Kematian Balita Raya asal Sukabumi : Seluruh Tubuh Dipenuhi Cacing. Diambil kembali dari umj.ac.id.

Errisya, M. K., Susanti, N., & Suraya, R. (2025). Program Pemberian Obat Cacing Pada Anak Sekolah Dasar Di Puskesmas Tanjung Selamat. PROMOTIF PREVENTIF.

Harahap, M. H. (2025). 7 penyebab cacingan pada anak dan cara mencegahnya dengan tepat. Diambil kembali dari www.antaranews.com.

Ika Puspa Sari, M. (2025). Cacingan pada Anak dan Dewasa: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya. Diambil kembali dari rs.ui.ac.id.

Mari Mengenal Apa Itu Penyakit Cacingan Pada Anak. (2019). Diambil kembali dari www.lifebuoy.co.id.

Mengenal Cacing Gelang, Parasit yang Dapat Hidup di Usus. (2024). Diambil kembali dari www.alodokter.com.

Novita, D. (2025). Kenali Penyakit Cacingan pada Anak untuk Lakukan Penanganan yang Tepat. Diambil kembali dari www.klikdokter.com.

PALULLUNGAN, G. O. (2024). PREVALENSI DAN FAKTOR RESIKO INFEKSI CACING PADA ANAK DI KOTA MAKASSAR TAHUN 2024. Diambil kembali dari repository.unhas.ac.id/.

Parajuli, R. P., Bhandari, S., Ward, L. M., & Ricar, J. (2024). Risk factors for Ascaris lumbricoides infection and its association with nutritional status and IQ in 14-Year old adolescents in Chitwan, Nepal. Scientific Reports.

puskesmasseselalobar. (2025). Penyebab Cacingan yang Tak Disadari pada Anak. Diambil kembali dari puskesmasmeninting-dikes.lombokbaratkab.go.id.

Saputra, E. Y. (2025). Viral Balita Meninggal karena Cacingan. Epidemiolog Beberkan Cara Cacing Masuk Tubuh. Diambil kembali dari Tempo.co.

Saraf, A. (2021). Sudden death in a 2-year-old child: Role of Ascaris infestation and other possibilities. Journal of Indian Academy of Forensic Medicine.

TimKontenMedis. (2025). Penyakit Cacingan: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi. Diambil kembali dari ciputrahospital.com.

Sumber Featured Image : bady abbas di Unsplash