Benarkah Adenomiosis Adalah Pemicu Sakit Saat Haid?

Benarkah Adenomiosis Adalah Pemicu Sakit Saat Haid?

Pernah merasakan haid yang sangat sakit dengan pendarahan yang begitu hebat? Itu merupakan salah satu gejala dari adenomiosis. Apa itu adenomiosis? Mungkin istilah ini kurang begitu familiar dibandingkan dengan endometriosis meskipun endometriosis dan adenomiosis adalah masalah kesehatan yang berhubungan dengan sistem reproduksi wanita. 

Mengenal Adenomiosis

Adenomiosis adalah kondisi yang umum terjadi di mana rahim membesar karena lapisan rahim tumbuh masuk ke dalam dinding ototnya. Selama haid, jaringan adenomiosis ini membengkak dan berdarah di dalam dinding rahim, menghasilkan rasa nyeri haid yang sangat parah, kram, dan perdarahan haid yang banyak.

Walaupun adenomiosis bukan penyakit yang bisa mengancam jiwa, gejalanya dapat mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya secara signifikan. 

Umumnya, adenomiosis adalah suatu kondisi yang tidak bersifat kanker, yang artinya tidak menyebar ke organ lain dan pertumbuhannya berjalan perlahan. Namun, dalam kasus yang sangat jarang terjadi, adenomiosis dapat berubah menjadi kanker, yang tentu saja membuat kondisinya menjadi lebih serius.

Sulit Dideteksi

Sebutan yang sering diberikan pada adenomiosis adalah “penyakit tersembunyi.” Ternyata ini ada alasannya. Jika endometriosis dapat didiagnosis melalui operasi laparoskopi, adenomiosis menjadi tantangan karena tersusup dalam otot rahim. 

Menurut Dr. Natalya Danilyants, MD, salah satu pendiri Center for Innovative GYN Care di Rockville, Maryland, adenomiosis adalah penyakit yang sering tidak terdeteksi pada hasil tes pencitraan atau bahkan selama operasi laparoskopi, kecuali jika terjadi kebetulan memotong bagian rahim yang tepat. Biasanya, pengungkapan kondisi ini baru terjadi setelah rahim diangkat dan studi patologi dilakukan.

Penyakit ini juga kurang dibicarakan karena selain sulit dideteksi, kondisi ini seringkali beriringan dengan endometriosis dan gejalanya dapat bercampur dengan gejala kondisi lain seperti mioma serta endometriosis. Meskipun keduanya bisa menyebabkan nyeri, perlu diingat bahwa endometriosis tidak selalu mengakibatkan pendarahan yang tidak normal seperti yang terjadi pada adenomiosis.

Derita Jantung Bocor dan Bibir Sumbing, Meida Mengharapkan Bantuanmu!

Siapa yang Rentan Terhadap Adenomiosis?

Adenomiosis adalah penyakit yang bisa menyerang siapa pun, namun cenderung muncul pada usia sekitar 40 hingga pertengahan 50-an. Ini sering terjadi ketika masa subur sudah berlalu, tetapi haid masih datang. Kondisi ini tampaknya tidak terkait dengan faktor risiko atau riwayat keluarga.

Bagaimana Gejalanya?

Gejala adenomiosis bisa beragam. Meskipun beberapa wanita mungkin tidak merasa apa-apa atau hanya merasa sedikit tidak nyaman, banyak juga yang mengalami gejala berikut:

  • Haid yang menyakitkan atau berkepanjangan
  • Pembengkakan
  • Rasa tekanan di perut
  • Nyeri punggung bagian bawah
  • Sering buang air kecil
  • Sakit ketika melakukan hubungan seks 
  • Berat atau nyeri di daerah panggul karena rahim yang membesar
  • Infertilitas

Meskipun gejalanya mungkin ringan bagi beberapa orang, untuk yang lainnya, gejala ini dapat menjadi sangat mengganggu dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang, ada juga kasus di mana tidak ada gejala sama sekali, meski ada adenomiosis.

Apa Penyebab Adenomiosis Adalah?

Adenomiosis adalah kondisi yang terjadi ketika sel-sel yang biasanya melapisi dinding dalam rahim juga tumbuh di dalam lapisan otot rahim. Cara atau alasan pasti mengapa sel-sel ini berpindah ke dinding otot belum sepenuhnya dipahami. Beberapa faktor telah dipelajari yang mungkin meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami adenomiosis. 

Meskipun mekanisme pastinya masih belum jelas, ada anggapan bahwa estrogen, progesteron, dan riwayat operasi rahim sebelumnya mungkin berkontribusi pada perkembangan adenomiosis. Selain itu, ada hubungan dengan peningkatan kadar aromatase, sebuah enzim yang berperan dalam sintesis estrogen. 

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa usia dan seberapa banyak anak yang dimiliki dapat memainkan peran dalam perkembangan kondisi ini. Risiko adenomiosis juga tampaknya menurun setelah menopause, kemungkinan karena perubahan kadar berbagai hormon seperti progesteron, estrogen, prolaktin, dan hormon folikel-stimulasi (FSH).

Proses Diagnosis 

Mendiagnosis adenomiosis biasanya memerlukan waktu dan perhatian khusus. Dokter akan berdiskusi dengan pasien mengenai gejala yang dialami pasien dan kemudian melakukan pemeriksaan fisik. Selama pemeriksaan tersebut, dokter kemungkinan mencatat adanya gejala perasaan nyeri dan pembesaran rahim pasien.

Pada tahap ini, dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk menjalani ultrasonografi, suatu pemeriksaan menggunakan gelombang suara untuk melihat rahim secara lebih rinci. Dalam beberapa kasus, dokter bahkan bisa merekomendasikan pencitraan resonansi magnetik (MRI) untuk memperoleh gambaran yang lebih mendalam.

Jika diperlukan, dokter juga dapat merujuk pasien kepada seorang spesialis untuk pemeriksaan lebih lanjut dan mungkin pengobatan yang sesuai.

Metode Pengobatan

Tindakan yang diambil untuk mengatasi adenomiosis bergantung pada gejala yang dialami pasien dan ada beragam pilihan yang tersedia:

  • Penggunaan obat anti-inflamasi untuk meredakan nyeri ringan.
  • Perawatan khusus selama masa menstruasi untuk mengurangi jumlah perdarahan yang terjadi.
  • Terapi hormon, seperti penggunaan pil kontrasepsi, untuk mengendalikan haid yang sangat sakit atau terlalu banyak mengeluarkan darah.
  • Pilihan ekstrem, yakni histerektomi (pengangkatan rahim), hanya akan dipertimbangkan dalam situasi ekstrem di mana perawatan lainnya tidak berhasil dan jika pasien tidak berencana untuk hamil lagi.
Klik Untuk Donasi - Alami Anemia Berat dan Infeksi, Zahra Tak Punya Biaya untuk Berobat!
Zahra Tusyita
Zahra Tusyita
Oleh Medikator
  1. Terdanai Rp.350,000
  2. Pencapaian 3.03%
  3. Donatur 11

Tak Hanya Adenomiosis, Ada Juga Kanker Serviks

Meski bukan penyakit yang mengancam jiwa, adenomiosis adalah penyakit yang bisa menganggu keseharian para wanita karena rasa gejala yang dirasakannya. Selain adenomiosis, penyakit lain yang juga menyerang sistem reproduksi wanita adalah kanker serviks. Menurut laman situs Kementerian Kesehatan Indonesia, kasus kanker serviks menduduki peringkat kedua tertinggi di negara kita. Seperti diketahui, pengobatan penyakit ini tidaklah murah. Karenanya banyak pasien yang kesulitan untuk berobat. Mari kita bantu mereka dengan berdonasi melalui WeCare.id. Cara berdonasinya cukup mudah, bisa melalui situs web WeCare.id atau aplikasi WeCare.id yang bisa diunduh di ponselmu melalui Google Store atau App Store. Apa pun dan berapa pun donasi yang kamu berikan akan sangat membantu pasien yang membutuhkan. 

Yuk, donasi sekarang melalui WeCare.id!

Referensi

Adenomyosis. (2018). Diambil kembali dari honorhealth.com.

Adenomyosis. (2018). Diambil kembali dari healthdirect.gov.au.

Adenomyosis. (2020). Diambil kembali dari london-gynaecology.com.

Adenomyosis. (2022). Diambil kembali dari nhsinform.scot.

Adenomyosis. (2023). Diambil kembali dari nhs.uk.

Levine, B. (2023). Adenomyosis: Symptoms, Diagnosis, Causes, and Treatments. Diambil kembali dari everydayhealth.com.Tiarks, G. (2021). Adenomyosis. Diambil kembali dari osmosis.org.

Sumber Featured Image : Sasun Bughdaryan on Unsplash