Penting! Kenali 4 Pola Asuh dan Dampaknya pada Anak

Penting! Kenali 4 Pola Asuh dan Dampaknya pada Anak

Pola asuh orang tua bisa mempengaruhi anak secara keseluruhan, mulai dari beban yang dia rasakan hingga perasaan tentang dirinya. Sangat penting untuk memastikan apakah gaya pengasuhan orang tua mendukung pertumbuhan juga perkembangan anak. Cara orang tua berinteraksi dengan anak dan bagaimana orang tua mendisiplinkan mereka akan mempengaruhi seumur hidupnya.

Tiap Hari Benjolan Terus Membesar di Kepala, Arvino Butuh Biaya untuk Berobat!

Teori Pola Asuh Anak

Empat pola asuh anak yang umum digunakan dalam psikologi sekarang ini adalah pola otoritatif, otoriter, permisif, dan abai. Keempat pola asuh tersebut didasarkan pada karya psikolog Diana Baumrind. Dia merupakan seorang psikolog perkembangan di University of California di Berkeley, pada 1960-an. Kemudian disempurnakan pada tahun 1980-an oleh Maccoby dan Martin.

Baumrind memperhatikan bagaimana anak-anak prasekolah memperlihatkan beragam jenis perilaku yang berbeda. Tiap jenis perilaku itu berhubungan dengan jenis pengasuhan tertentu. Menurut Teori Baumrind, ada kaitan antara tipe pola asuh orang tua dengan sikap anak. Gaya pengasuhan yang berbeda akan mengakibatkan perkembangan anak serta hasil anak yang berbeda pula. Empat pola asuh tersebut biasanya dinamakan dengan pola asuh Diana Baumrind atau pola asuh Maccoby dan martin. 

Empat Jenis Pola Asuh Anak

Seperti yang sudah disebutkan di atas, terdapat empat jenis pola asuh orang tua, yaitu:

  • Otoriter
  • Otoritatif/Demokratis
  • Permisif
  • Abai

Pola Asuh Otoriter

Ciri-ciri pola asuh yang otoriter, di antaranya:

  • Model komunikasi satu arah, yaitu orang tua menetapkan aturan yang harus dipatuhi anak. 
  • Sedikit atau bahkan tidak ada ruang untuk diskusi maupun negosiasi dengan anak dan umumnya tidak memberikan penjelasan untuk aturan yang ditetapkan.
  • Orang tua berharap anak-anak mengikuti standar yang sudah ditetapkan tanpa membuat kesalahan.
  • Biasanya kesalahan mengarah pada hukuman. 
  • Biasanya orang tua yang otoriter kurang mengasuh dan mempunyai ekspektasi yang tinggi, tetapi kurang fleksibel.

Biasanya anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh otoriter akan berperilaku sangat baik di rumah karena adanya hukuman jika berperilaku salah. Selain itu, anak-anak ini juga mampu mematuhi instruksi yang tepat yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Namun, gaya pengasuhan yang seperti ini bisa menghasilkan anak-anak dengan tingkat agresi yang lebih tinggi, tapi mungkin juga pemalu. Selain itu, mereka juga tidak kompeten secara sosial, dan tidak memiliki kemampuan untuk membuat keputusan sendiri.

Tingkat agresi ini bisa tetap tidak terkontrol karena mereka mempunyai kesulitan dalam mengelola amarah. Ini disebabkan mereka tidak mendapatkan bimbingan yang tepat. Penghargaan terhadap diri sendiri juga buruk. Hal ini semakin memperkuat ketidakmampuan mereka dalam membuat keputusan. Sering kali aturan dan hukuman yang ketat dari orang tua membuat anak cenderung akan memberontak terhadap figur otoritas saat mereka tumbuh dewasa.

Pola Asuh Otoritatif

Ciri-ciri pola asuh yang otoritatif, di antaranya adalah:

  • Membuat hubungan yang dekat dengan anak-anak mereka dan mendidik. 
  • Orang tua mempunyai pedoman yang jelas untuk harapan mereka serta memberikan penjelasan untuk aturan disiplin yang mereka terapkan.
  • Metode disiplin digunakan sebagai cara untuk mendukung bukannya menghukum. 
  • Anak-anak juga diperbolehkan untuk memberikan masukan ke dalam tujuan dan harapan. 
  • Kedua belah pihak sering melakukan komunikasi.

Secara umum, pola asuh seperti ini akan menghasilkan anak-anak yang sehat. Namun, gaya pengasuhan ini membutuhkan banyak kesabaran serta usaha dari kedua belah pihak. Gaya otoritatif akan menghasilkan anak-anak yang percaya diri, mampu mengatur diri sendiri, dan bertanggung jawab. Selain itu, anak-anak juga mampu mengelola emosi negatif dengan lebih efektif, sehingga mereka memiliki kemampuan sosial adan kesehatan emosional yang lebih baik.

Orang tua yang menggunakan pola asuh otoritatif juga mendorong anak-anak untuk lebih mandiri. anak-anak akan belajar untuk mempercayai kemampuan mereka dalam mencapai tujuan. Mereka juga akan tumbuh sebagai anak-anak yang mampu menghargai diri sendiri dengan baik. Ditambah juga kemampuan akademis dan prestasi anak-anak yang mendapatkan pengasuhan gaya otoritatif cenderung akan tinggi. 

Pola Asuh Permisif

Ciri-ciri pola asuh permisif, di antaranya adalah:

  • Orang tua dengan pola asuh permisif cenderung hangat, mendidik, dan umumnya mempunyai ekspektasi yang tidak tinggi atau tidak memiliki ekspektasi sama sekali.
  • Mereka tidak banyak memberlakukan aturan pada anak-anak.
  • Komunikasi dengan anak-anak tetap terbuka, tapi orang tua memberikan kesempatan pada anak untuk mencari tahu sendiri.
  • Tingkat ekspektasi yang rendah umumnya membuat orang tua jarang menggunakan disiplin.
  • Orang tua lebih bertindak sebagai teman dibandingkan orang tua. 

Orang tua yang menerapkan aturan yang permisif bisa mengakibatkan akan mempunyai kebiasaan makan yang tidak sehat, khususnya yang berhubungan dengan jajanan. Nantinya ini akan meningkatkan risiko obesitas dan masalah kesehatan di masa yang akan datang. Anak-anak yang mendapatkan pola asuh permisif juga mempunyai banyak kebebasan untuk menentukan waktu tidur, kapan akan mengerjakan pekerjaan rumah, dan screen-time untuk menonton TV dan bermain komputer. 

Kebebasan seperti ini bisa menimbulkan kebiasaan negatif lainnya karena orang tua tidak memberikan banyak bimbingan kedisiplinan. Umumnya, anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh ini akan memiliki penghargaan pada dirinya dan keterampilan sosial yang baik. Akan tetapi, anak-anak ini juga bisa menjadi orang yang impulsif, egois, menuntut, dan kurang bisa mengatur diri sendiri.

Pola Asuh Abai

Ciri-ciri pola asuh abai atau tidak terlibat di antaranya:

  • Orang tua biasanya tidak ikut campur karena anak-anak diberikan banyak kebebasan.
  • Orang tua tetap memenuhi kebutuhan dasar anak, tapi umumnya mereka tidak memiliki ikatan dengan kehidupan anak-anak. 
  • Orang tua yang abai tidak menggunakan gaya pendisiplinan tertentu dan komunikasi dengan anak-anak juga terbatas.
  • Mereka cenderung tidak mengasuh atau mendidik anaknya serta memiliki ekspektasi yang rendah atau tidak sama sekali terhadap anak-anak. 

Biasanya, anak-anak yang mendapatkan pola asuh abai akan menjadi tangguh dan bahkan mungkin lebih mandiri dibandingkan dengan merek yang tumbuh dengan gaya pengasuhan yang lain. Akan tetapi, kemampuan ini berkembang karena kebutuhan. Anak-anak dengan gaya pengasuhan ini juga mengalami kesulitan untuk mengendalikan emosi, tidak mempunyai coping-mechanism atau strategi atau cara menghadapi stres yang efektif, bisa jadi mempunyai tantangan dalam bidang akademis, dan mengalami kesulitan dalam mempertahankan atau memelihara hubungan sosial.

Dari penjelasan di atas, pola asuh anak sangat penting karena akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak ke depannya. Karena itu, penting bagi para orang tua untuk mengetahui mana gaya pengasuhan yang tepat. Bahasan pola pengasuhan anak memang membuat kita banyak belajar. Di sela-sela membaca bahasan ini, yuk sempatkan waktu sejenak untuk membantu pasien yang membutuhkan bantuan biaya pengobatan. Caranya gampang, kok. Cukup unduh aplikasi WeCare.id di Google Play atau App Store untuk donasi mudah dan praktis kapan saja. 

Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!

Klik Untuk Donasi - Sedekah Membawa Berkah
  1. Terdanai Rp.231,000
  2. Pencapaian 0.04%
  3. Donatur 9

Referensi

Li, A. (2022). 4 Types of Parenting Styles and Their Effects On The Child. Diambil kembali dari parentingforbrain.com.

Morin, A. (2021). 4 Types of Parenting Styles and Their Effects on Kids. Diambil kembali dari verywellfamily.com.Sanvictores, T. dan Mendez, M. D. (2022). Types of Parenting Styles and Effects On Children. Diambil kembali dari cbi.nlm.nih.gov.

Sumber Featured Image : Neil Dodhia dari Pixabay