Mengenal Badai Sitokin yang Terkait dengan COVID-19

Mengenal Badai Sitokin yang Terkait dengan COVID-19

Dikutip dari laman situs web jurnal the Lancet, pada Januari 2021, hampir 2 juta kematian di seluruh dunia telah dikaitkan dengan COVID-19, yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Sebagian besar kematian pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan pneumonia COVID-19 dikaitkan dengan sindrom badai sitokin.

Muliakan Yatim di Tengah Pandemi

Apa Itu Badai Sitokin?

Secara garis besar, badai sitokin merupakan respon imun yang berlebihan yang dapat menyebabkan masalah serius. Sistem imun tubuh memiliki banyak komponen beragam yang membantu tubuh kita melawan infeksi yang mencakup berbagai jenis sel yang berkomunikasi satu sama lain melalui molekul sinyal, yang dikenal sebagai sitokin.

Sitokin terdiri dari beragam jenis yang berbeda yang melakukan berbagai macam fungsi. Beberapa sitokin membantu untuk merekrut sel-sel kekebalan lainnya. Sementara beberapa membantu memproduksi antibodi atau sinyal rasa sakit. Beberapa membuat pembekuan darah lebih mudah. Ada juga yang berfungsi untuk membantu memproduksi peradangan, yang bisa membuat pembuluh darah lebih bocor dari yang biasanya. Kelompok sitokin lain membantu meredam respons peradangan tubuh. Itu keseimbangan yang penting karena terlalu banyak peradangan menyebabkan masalahnya sendiri.

Dalam keadaan normal, sitokin ini membantu mengoordinasikan respons sistem kekebalan tubuh kita untuk menangani zat menular, seperti virus atau bakteri. Masalahnya adalah terkadang respons peradangan tubuh bisa lepas kendali, menyebabkan lebih banyak kerugian dibandingkan kebaikan.

Pada orang yang mengalami sindrom badai sitokin, sitokin tertentu hadir dalam darah dalam jumlah yang lebih tinggi dari normal. 

Badai Sitokin Terjadi pada Pasien COVID-19

Badai sitokin bisa dipicu oleh sejumlah infeksi, di antaranya pneumonia, influenza, dan sepsis. Respon imun yang meningkat ini tidak terjadi pada semua pasien dengan infeksi parah, tentu saja, tetapi para ahli tidak tahu apa yang membuat beberapa orang lebih rentan daripada yang lain.

Pada COVID-19, peningkatan beberapa sitokin inflamasi (yaitu suatu bentuk evolusi sistem imun yang berusaha meminimalisir serta melokalisir infeksi) tampaknya terlibat dalam pengembangan sindrom gangguan pernapasan akut, penyebab utama kematian pada orang yang terkena penyakit COVID-19. Apa yang dokter ketahui pada titik ini mengenai badai sitokin pada pasien COVID-19 adalah bahwa beberapa pasien menjadi sangat sakit dengan sangat cepat.

Kebanyakan pasien COVID-19 yang terjangkit badai sitokin menderita demam serta sesak napas, kemudian mereka mengalami banyak kesulitan bernapas yang akhirnya menyebabkan mereka memerlukan ventilasi. Biasanya gejala ini terjadi kurang lebih enam atau tujuh hari sesudah timbulnya penyakit.

Menderita Sesak dan Berat Badan Tak Kunjung Naik, Ghava Butuh Pertolonganmu Segera!

Gejala Sindrom Badai Sitokin

Badai sitokin dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda. Terkadang ini hanya gejala ringan seperti flu. Di lain waktu, gejala ini bisa juga menjadi parah dan mengancam jiwa. Gejala yang mungkin terjadi, di antaranya:

  • Demam dan kedinginan
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Mual dan muntah
  • Sakit otot dan sendi
  • Pembengkakan ekstremitas
  • Kejang
  • Sesak napas
  • Batuk
  • Napas cepat
  • Ruam
  • Tremor
  • Kesulitan mengkoordinasikan gerakan
  • Kebingungan dan halusinasi
  • Lesu dan respon yang buruk

Tanda lain dari sindrom badai sitokin yang parah yaitu tekanan darah yang rendah sekali serta peningkatan pembekuan darah. Mungkin jantung tidak memompa sebaik biasanya. Akibatnya, badai sitokin bisa mempengaruhi beberapa sistem organ yang berpotensi menyebabkan kegagalan organ dan kematian.

Penyebab Badai Sitokin

Beberapa infeksi virus yang diketahui menyebabkan badai sitokin pada pasien yaitu:

  • COVID-19
  • flu burung H5N1
  • Sindrom pernapasan akut parah atau SARS
  • demam berdarah
  • Influensa
  • Infeksi sitomegalovirus
  • Sindrom Epstein-Barr

Beberapa penyakit tidak menular yang dapat memicu badai sitokin termasuk pankreatitis (radang pankreas) dan multiple sclerosis (penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang selubung pelindung atau lapisan di sekitar saraf).

Pengobatan Badai Sitokin

Bagian penting dari pengobatan badai sitokin adalah perawatan yang suportif. Jika seseorang mengalami gejala yang parah, seperti kesulitan bernapas, mungkin pasien memerlukan perawatan di unit perawatan intensif. 

Pengobatannya bergantung pada penyebabnya. Misalnya, jika badai sitokin disebabkan oleh infeksi bakteri, diberi antibiotik. Namun, dalam banyak kasus pengobatan langsung untuk kondisi yang menjadi penyebabnya tidak tersedia dan dokter harus mencoba pendekatan lain untuk mencoba mengurangi respon imun. Namun ini sangat rumit, sebagian karena sistem imun memiliki begitu banyak bagian yang berbeda.

Dalam melawan infeksi, mungkin ideal untuk mengurangi satu bagian dari respons imun sambil membiarkan bagian lain bekerja secara normal atau bahkan memperkuatnya.

Pengobatan Badai Sitokin dari COVID-19

Banyak terapi yang sedang dicoba oleh para peneliti untuk mengobati sindrom badai sitokin yang disebabkan COVID-19. Misalnya, Kineret (anakinra), yaitu terapi biologis yang terkadang digunakan untuk mengobati orang dengan rheumatoid arthritis dan kondisi medis lain yang dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Terapi ini memblokir aktivitas sitokin spesifik yang dikenal sebagai interleukin 1 (IL-1). Terkadang terapi ini membantu orang dengan badai sitokin karena kondisi autoimun. 

Contoh lain adalah Actemra (tocilizumab), yaitu obat radang sendi yang dapat digunakan untuk rheumatoid arthritis dan kondisi lainnya. Terapi ini berhasil memblokir aktivitas sitokin lain, yaitu interleukin 6 (IL-6). Sebelumnya Actemra terkadang digunakan untuk mengobati badai sitokin yang muncul sebagai efek samping terapi, seperti untuk leukemia.

Itulah informasi mengenai badai sitokin yang telah merengut nyawa suami dari aktris Indonesia, Joanna Alexandra. Ternyata respon imun yang berlebihan bisa membuat masalah serius untuk tubuh. Jaga selalu kesehatan kita dan jangan lupa untuk kamu juga bisa meluangkan waktu dengan membantu pasien tidak mampu yang mengidap berbagai penyakit.

Kamu juga bisa berdonasi lebih mudah melalui aplikasi WeCare.id. Caranya, download aplikasi WeCare.id di ponselmu. Donasi yang kamu berikan tentu sangat berharga untuk teman-teman yang membutuhkan.

Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!

Klik Untuk Donasi - Gizi Buruk Adik-Adik Disabilitas Mulai Memburuk
  1. Terdanai Rp.160,000
  2. Pencapaian 0.69%
  3. Donatur 3

Referensi

Bradley, S. (2020). What Is a Cytokine Storm? Doctors Explain How Some COVID-19 Patients’ Immune Systems Turn Deadly. Diambil kembali dari health.com.

Hickman, R. J. (2020). What Is Cytokine Storm Syndrome. Diambil kembali dari verywellhealth.com.

Inside a Cytokine Storm: When Your Immune System is Too Strong. (2021). Diambil kembali dari breakthroughs.com.Mohan, A. (2020). Cytokine storm. Diambil kembali dari myupchar.com.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *